TNI Turunkan 600 Prajurit Di Nduga

178
Indonesian Military personnel prepare to board a helicopter in Wamena in Papua on Wednesday to retrieve the bodies of construction workers killed in Nduga. The soldiers hunted for rebels suspected of killing 19 workers and one soldier in the restive province of Papua. (AFP/Anyong)

HarianPapua.com – Sebanyak 600 pasukan anggota Satuan Setingkat Yonif (SSY) TNI diterjunkan ke Kabupaten Nduga, Provinsi Papua yang berasal dari Batalyon 431 Kostrad dan Batalyon Zipur 8 Makassar.

Kedatangan 600 prajurit TNI itu disebutkan oleh Komandan Korem (Danrem) 172/Praja Wira Yakti (PWK) sebagai bentuk bantuan untuk kembali melanjutkan proyek jalan Trans Papua yang sempat tertunda akibat ulah sekelompok masyarakat yang disebut-sebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata yang tersebar luas di daerah pegunungan Provinsi Papua.

“Mulai pagi ini kami akan geser mereka ke titik masing-masing. Nanti ada dua sektor. Satu sektor di wilayah Kenyam dan satu lagi di wilayah Mbua. Jadi kami bekerja paralel dari dua sektor itu,” ujar Kolonel Binsar yang juga dipercayakan sebagai Komandan Pelaksanaan Operasi Pembangunan Jalan dan Jembatan Proyek Trans Papua, Minggu (10/3/2019).

Danrem menjelaskan, personel yang terlibat dalam tugas ini terdiri atas 150 prajurit Batalyon Zipur 8 yang bertugas mengerjakan jalan dan jembatan Trans Papua. Sementara 450 prajurit Batalyon 431 Kostrad melakukan pengamanan selama pekerjaan berlangsung di wilayah konflik tersebut.

Mereka akan di-dropping ke Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga, untuk melanjutkan pekerjaan pembangunan jalan dan jembatan dari arah Kenyam menuju Batas Batu dan Mumugu di Kabupaten Asmat. Sektor lainnya di wilayah atas akan melanjutkan pekerjaan pembangunan jalan dan jembatan dari arah Mbua menuju Paro.

Dua lokasi proyek ini sebelumnya ditangani PT Brantas Abipraya dan PT Istaka Karya. Namun pengerjaannya terhenti sejak awal Desember 2018 menyusul insiden pembantaian belasan pekerja PT Istaka Karya oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB).

Para prajurit TNI yang dikirim ke Nduga itu diberi target hingga akhir tahun untuk menyelesaikan pembangunan 30 jembatan di ruas jalan Trans Papua yang belum terselesaikan.

“Kami harapkan paling tidak setengah dari proyek ini bisa selesai sampai akhir tahun. Di 2019 ini paling tidak 70-80 persen dari 30 jembatan yang ditargetkan itu dapat selesai. Penugasan ini normalnya selama sembilan bulan, tapi bisa saja dalam perkembangan bertambah satu sampai dua bulan. Yang jelas, kami menargetkan proyek ini harus tuntas apapun ceritanya,” kata Binsar.

Dia mengungkapkan telah berkoordinasi dengan Markas Besar (Mabes) TNI di Jakarta serta Kementerian PUPR untuk menambah personel pasukan Zipur yang akan terlibat dalam pembangunan jalan dan jembatan Trans Papua agar progres pembangunan lebih cepat.

Menurutnya, pasukan yang dikirim ke Nduga untuk melanjutkan pembangunan jalan dan jembatan Trans Papua tidak terlibat dalam pengejaran KKSB.

“Mereka ini khusus untuk bangun jalan dan jembatan. Ada satuan lain yang melakukan pengejaran KKSB. Mereka saat ini sudah ada di wilayah pegunungan,” tuturnya.