Perda Miras Hanyalah Lelucon Tikus Berdasi

237
Ilustrasi Miras jenis bir

HarianPapua.com – Menjelang berakhirnya tahun 2018, Provinsi Papua memang sepertinya tidak akan ada perubahan yang signifikan pada sektor pemberantasan minuman keras atau miras.

Sejak diberlakukan Peraturan Daerah (Perda) tentang larangan peredaran (jual dan beli) minuman keras di Provinsi Papua pada tanggal 30 Maret 2016 lalu, tidak ada satu pun perubahan yang dialami dan dirasakan dampak positifnya bagi masyarakat di Provinsi Papua.

Pantauan media HarianPapua.com, menjelang berakhirnya tahun 2018 di sepanjang jalan raya Sentani – Abepura mulai terlihat para priaganteng-ganteng serigala” yang mulai berdiri di pinggir jalan menawarkan minuman keras kepada para calon pembeli.

Tentunya hal ini menjadi sebuah pukulan yang memalukan terutama bagi para pemangku jabatan yang mungkin saja sengaja membiarkan hal itu terjadi.

“Hari ini merupakan sejarah bagi generasi Papua. Di mana keputusan yang diambil untuk kepentingan menyelamatkan orang asli Papua dari kepunahan,” kata Gubernur Papua Lukas Enembe di hadapan Bupati dan Walikota se-Provinsi Papua, Rabu 30 Maret 2016, yang nyatanya hingga saat ini hal tersebut hanyalah merupakan sebuah lelucon belaka.

Lantas, siapakah yang harus disalahkan dalam hal ini? Nikmatnya perayaan momen Natal pun seperti tidak memiliki arti yang khusus akibat terjadi kekerasan dalam rumah tangga (bahkan yang terbaru berujung tewasnya sang istri), pemerkosaan bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh karena para pelaku berada di bawah kendali minuman keras.

Mungkin memang benar bahwa para pemangku jabatan di Provinsi Papua lebih mementingkan kantong pribadi mereka dibandingkan meluruskan apa yang sebenarnya menjadi akar masalah yang kemudian bisa dirubah menjadi sebuah momen acuan kebangkitan para pemuda bangsa (terlebih khusus OAP) untuk menjadi mitra-mitra usaha yang mapan, mandiri dan berpendidikan.