OPINI: Tidak Ada Solusi Dari Konflik Nduga?

68
Indonesian Military personnel prepare to board a helicopter in Wamena in Papua on Wednesday to retrieve the bodies of construction workers killed in Nduga. The soldiers hunted for rebels suspected of killing 19 workers and one soldier in the restive province of Papua. (AFP/Anyong)

HarianPapua.com – Pertentangan penuh konspirasi terus terjadi dan mewarnai Kabupaten Nduga yang terletak di Provinsi Papua sebagai sebuah kawasan “merah” yang menjadi ladang adu jotos bagi anggota TNI dan juga sekelompok grup yang bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia memandangnya dengan sebutan Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB.

Terbaru, beredar luas di media tentang seorang prajurit TNI yang harus meregang nyawa setelah diserang oleh kelompok yang disebut KKB itu. Bahkan, kejadian ini sebenarnya bukan yang pertama terjadi di wilayah tersebut.

Sudah banyak anggota TNI yang gugur di berbagai daerah di kabupaten-kabupaten yang berada di daerah pegunungan Provinsi Papua namun faktanya hingga saat ini hal tersebut tidak mempunya 1 pun solusi.

Jangankan anggota TNI, masyarakat sipil bahkan lebih banyak yang telah meregang nyawa akibat konspirasi konflik bak perang-perang hebat yang terjadi di wilayah Suriah yang melibatkan Amerika Serikat di dalamnya.

Konspirasi semakin meluas dengan hadirnya peran media-media nasional yang kerap menunjukan sikap membabi buta dalam memberitakan kejadian real di wilayah Nduga.

Suara.com contohnya, yang mengaku mendapatkan informasi atau rilis resmi berita (sekaligus foto pengintaian anggota KKB) langsung dari Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom. Lihat beritanya DISINI

Logikanya, sarana model apa yang bisa menyampaikan rilis berita pengakuan KKB yang mengaku melakukan aksi penyerangan terhadap anggota TNI tersebut?

Pantauan media HarianPapua.com, akses sarana komunikasi begitu minim sehingga wajar saja penembakan yang telah terjadi beberapa hari sebelumnya barulah bisa diterima atau diketahui oleh masyarakat luas beberapa hari kemudian. Itu yang seharusnya terjadi kalau kita menggunakan logika.

Selain itu, Suara.com pun seperti mengetahui dengan jelas (atau mungkin hanya membual saja) tentang susunan jabatan yang berada pada kelompok KKB dengan menyebutkan pemimpinnya adalah Panglima Kodap III Mayjen Egianus Kogoya.

Panglima Kodap III Mayjen? Sejak kapan organisasi itu memiliki susunan pangkat Mayor Jenderal seperti yang disebutkan diatas? Apakah media Suara.com langsung berada di lapangan pada waktu pentahbisan susun perangkat “sayap militer” OPM tersebut? Inilah yang dinamakan pembodohan publik.

Lantas, Kapan konspirasi ini berakhir?

Jika kita menuntut pemerintah daerah bahkan menekankan bahwa ini adalah kesalahan Presiden, mari kita tengok diri sendiri dan melihat apa sebenarnya yang menjadi akar permasalahan di Nduga tersebut? Uang? Jabatan? Kesejahteraan? Atau perpisahan Papua dari bingkai NKRI?

Kita percaya tentang makna “Ada sebab dan akibat”. Jika berbicara tentang Papua yang terus mendapatkan diskriminasi dan tingkat kesejahteraan yang rendah, seharusnya masyarakat melihat kepada para pemimpin mereka yang sangat sangat sangat koruptor yang membuat pembangunan di berbagai daerah mengalami banyak ketertinggalan mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.

Sementara itu, dengan melakukan aksi demo besar-besaran untuk menuntut agar Papua segera berpisah dan menjadi negara sendiri sebenarnya bukanlah pilihan yang baik. Belum merdeka saja sudah saling bunuh, banyak koruptor dan dikuasai oleh minuman keras. Begitu kan logikanya?

Aparat keamanan pun seperti terkesan lebih lemah dibandingkan kekuatan kelompok yang disebut KKB itu dan hal ini terlihat jelas dari gugurnya anggota TNI yang terus berjatuhan. Padahal, jika dilihat lebih jauh lagi, TNI yang memiliki berjuta-juta pengalaman yang diakui dunia dengan kekuatan militernya bisa saja membasmi anggota-anggota dari kelompok yang “katanya” melawan pemerintah tersebut.

Apakah ini hanyalah sebuah konspirasi? Apakah ini hanyalah…….