Melihat Popularitas Industri Minyak Ganja yang Mulai Mendunia

362
Industri Ganja diproyeksikan akan bernilai $5,7 miliar (Rp85 triliun) tahun depan dan bernilai $22 miliar (Rp330 miliar) pada tahun 2022.

HarianPapua.com – Meskipun tetap dalam bayang-bayang hukum, namun industri penjualan zat-zat ganja yang dikemas dalam berbagai bentuk paket konsumsi seperti cairan Vape (rokok elektrik), krim pereda nyeri, permen bahkan kapsul obat kini mulai merebah dan telah mencapai pasar internasional dalam skala penjualan.

Terlebih khusus di Amerika Serikat, masyarakat setempat menggunakannya untuk semua jenis penyakit mulai dari nyeri otot dan untuk menenangkan kecemasan hingga penyakit radang sendi, epilepsi, dan Post Traumatic Stress Disorder (Stres Pasca Trauma).

Perusahaan riset pasar CBD Brightfield Group memproyeksikan industri ini akan bernilai $5,7 miliar (Rp85 triliun) tahun depan dan bernilai $22 miliar (Rp330 miliar) pada tahun 2022.

Direktur riset Bethany Gomez mengatakan Charlotte’s Web Holdings, pemain terbesar industri ini, tumbuh sebesar 172% pada 2016-201717 dan akan menghasilkan $89 juta (Rp1,3 triliun) pada 2018.

Sektor kontroversial ini pada akhirnya dilirik di dunia investasi, belum termasuk minat dari beberapa pihak yang tidak lumrah.

Produsen minuman Coca Cola mengatakan perusahaan itu “mengawasi dengan seksama pertumbuhan CBD non-psikoaktif sebagai bahan dalam minuman kesehatan fungsional di seluruh dunia”.

Industri bisnis ganja ini kini mulai mengancam pertumbuhan sektor bisnis lainnya karena merupakan salah satu lahan bisnis terbesar dengan hasil yang menguntungkan bagi para investor.