Lukas Enembe Pun Tak Akan Mampu Menghadang TNI/Polri Untuk Mengamankan Papua

6433
Korban luka kabar akibat operasi keamanan militer Indonesia di Nduga, Papua pada Desember 2018. [ISTIMEWA]

HarianPapua.com – Juru bicara Komando Militer Papua Kolonel Muhammad Aidi mengatakan bahwa seorang Lukas Enembe pun tidak akan mampu untuk melarang pasukan gabungan TNI/Polri dalam mengamankan situasi di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.

“Tidak ada yang bisa menghentikan tugas polisi dan TNI untuk menjaga dan mengamankan negara, termasuk di Mbua dan Nduga.” terang Aidi kepada Tempo Minggu (23/12/2018).

Militer Indonesia saat ini memang lagi hangat di berbagai media nasional bahkan internasional terkait mencuatnya isu penggunaan bom fosfor putih yang menewaskan sedikitnya lima orang warga sipil di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.

Foto yang diterbitkan oleh surat kabar mingguan di Australia – The Saturday Paper – pada Jum’at (21/12/2018) menunjukkan seorang pria dengan luka menganga di kakinya dan luka bakar parah.

Laporan itu juga mengklaim luka-luka tersebut mungkin ditimbulkan oleh fosfor putih, sejenis bahan kimia pembakar yang tidak dapat dipadamkan dan menyebabkan cedera mengerikan.

Dalam pernyataan yang diberikan kepada ABC oleh juru bicara Komando Militer Papua Kolonel Muhammad Aidi, Indonesia menolak laporan itu dan menyebutnya sebagai “propaganda” dan “berita palsu”.

“Orang-orang yang menulis propaganda itu adalah orang-orang yang konyol, dan bodoh,” kata pernyataan itu.

Pernyataan itu juga mengatakan bom fosfor putih “tidak dapat dibawa oleh helikopter yang membawa pasukan mereka dan harus ditembakkan dari “puluhan atau ratusan kilometer jauhnya, atau dijatuhkan dari udara oleh seorang pembom”.

Dikatakan Militer Indonesia (TNI) tidak mengoperasikan pesawat tempur, apalagi pembom.

“Jika TNI menggunakan bom fosfor, Distrik Nduga akan musnah. Semua manusia dan hewan di sana juga akan musnah,” tulis pernyataan itu.

“Propaganda murah ini sengaja diproduksi oleh KKSB [Kelompok Sipil Bersenjata] sebagai alat penyamaran yang disengaja, untuk mempengaruhi publik dengan tipuan dan propaganda, sehingga orang-orang akan melupakan fakta bahwa kelompok ini [telah menewaskan 28 warga sipil].”

Fosfor putih sendiri digunakan dalam granat, mortir, dan peluru artileri untuk menandai sasaran, menyediakan asap, dan sebagai pembakar, menurut lembar fakta dari Federasi Ilmuwan Amerika (FAS).

Senjata pembakar, termasuk fosfor putih, dilarang untuk digunakan terhadap penduduk sipil di bawah Protokol III dari Konvensi Senjata Konvensional Tertentu Badan Perserikatan Bangsa-bangasa (PBB).