Fakta Tentang Tipes yang Perlu Diketahui

161
Ilustrasi infus

HarianPapua.com – Di tengah cuaca yang tidak menentu belakangan ini, banyak cerita tentang rekan kerja bertumbangan terkena sakit tipes. Penyakit yang juga kerap dikaitkan dengan kelelahan ini rupanya banyak menyimpan kesalahpahaman.

Salah satunya adalah soal nama, yakni tipes alias tifus. Ketika seseorang menyebut sakit tipus, umumnya yang dimaksud adalah demam typhoid. Penyebab demam typhoid adalah infeksi Salmonella yang menyerang usus, sedangkan typhus adalah penyakit mematikan yang dipicu oleh infeksi bakteri Rickettsia.

Seperti disebutkan sebelumnya, ketika orang awam menyebut ‘sakit tipes’ umumnya yang dimaksud bukanlah typhus melainkan demam typhoid (typhoid fever). Bedanya apa sih? Typhus adalah penyakit mematikan yang dipicu oleh infeksi bakteri Rickettsia, sedangkan demam typhoid alias ‘sakit tipes’ versi orang awam adalah infeksi Salmonella.

Nggak percaya? Coba saja cek hasil tes darah yang dilakukan ketika didiagnosis ‘sakit tipes’.

“Typhus adalah penyakit lain dan tidak ada di Indonesia. Penyakit tipes dalam pengertian awam adalah demam typhoid, ini yang banyak di Indonesia,” terang dr Paul Harijanto, SpPD-KPTI, pakar penyakit infeksi dari RS Bethesda Tomohon, Sulawesi Utara, dalam sebuah wawancara dengan detikHealth.

Sebutan lain untuk demam typhoid antara lain scrub typhus, typhus abdominalis, atau enteric fever. Akhiran -oid dalam demam typhoid menunjukkan bahwa infeksi ini memang mirip atau menyerupai typhus yang sesungguhnya.

Percaya atau tidak, ‘sakit tipes’ alias demam typhoid kerap tertukar diagnosisnya dengan DBD (Demam Berdarah Dengue). Selain karena sama-sama disertai demam berhari-hari, demam typhoid dan DBD juga dicirikan dengan hasil tes laboratorium yang sama yakni penurunan kadar trombosit yang normalnya berada di rentang 150.000 – 400.000/mm3.

Kesalahan diagnosis umumnya terjadi karena tes darah belum dilakukan, atau tidak cermat dalam membaca hasilnya. Penyebabnya sih sudah pasti beda, demam typhoid adalah infeksi bakteri Salmonella sedangkan DBD disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

Sering dikaitkan dengan DBD

Tanpa disertai tes darah di laboratorium, demam typhoid alias ‘sakit tipes’ memang sulit dibedakan dari demam lain termasuk DBD. Demam biasanya berlangsung hingga berhari-hari dan biasanya disertai rasa lemas.

Ridwan Kamil, yang saat itu menjadi Walikota Bandung, pernah menceritakan gejala yang dirasakan ketika menjadi suspek demam typhoid. Ia mengungkapnya dalam sebuah unggahan di Instagram.

“Ini sudah hari ke-4 naik-turun meriang keringetan tiada henti, tidak bisa ke mana-mana, hanya di rumah,” tuturnya kala itu di awal tahun 2017.

Terlalu kerja keras dan kelelahan?

Kelelahan sangat sering dikaitkan dengan ‘sakit tipes’ alias demam typhoid, sehingga muncul anggapan bahwa tipes adalah penyakitnya para pekerja keras. Benarkah?

Dilihat dari penyebabnya, infeksi bakteri Salmonella bisa terjadi pada siapapun yang kurang menjaga kebersihan makan dan minum. Bakteri Salmonella bisa ditemukan pada tinja manusia, yang jejaknya bisa mencemari makanan lewat berbagai cara. Malas cuci tangan, salah satunya.

Kelelahan fisik, secara langsung justru tidak berhubungan dengan demam typhoid. Tetapi bila dikaitkan dengan daya tahan tubuh yang memang melemah ketika seseorang kurang istirahat, ya mungkin ada benarnya juga.

Faktor Cuaca mempengaruhi

Kenapa banyak yang tumbang karena demam typhoid alias ‘sakit tipes’ ketika DBD juga sedang mewabah? Kedua penyakit ini memang dipengaruhi oleh faktor cuaca. Ketika curah hujan tinggi, penularan Salmonella penyebab ‘sakit tipes’ terjadi karena sumber air lebih rentan terkontaminasi.

“Typus biasanya terjadi saat pergantian musim dan perubahan cuaca,” kata dr Paul Harijanto, SpPD-KPTI, pakar penyakit infeksi dari RS Bethesda Tomohon, Sulawesi Utara, seperti diberitakan detikHealth .