Banjir Bandang Akibat Ulah Manusia Di Pegunungan Cycloop

200
Banjir bandang yang menyebabkan air Danau Sentani meluap hingga ketinggian 2 meter

HarianPapua.com – Tidak bisa dipungkiri lagi banjir bandang yang menerjang wilayah Kabupaten Jayapura, Sabtu (16/3/2019) sekitar pukul 21:30 WIT disebabkan oleh rusaknya cagar alam Gunung Cycloop oleh oknum-oknum manusia itu sendiri.

Sebanyak 9600 warga harus mengungsi dari lokasi kediaman mereka akibat banjir bandang yang menerjang kawasan tersebut. Jumlah tersebut belum ditambah ratusan korban meninggal dunia dan puluhan lainnya yang juga belum ditemukan hingga saat ini.

Kerusakan material pun dinilai menelan biaya yang mencapai angka milyaran rupiah.

Alam menjawab tindakan destruktif manusia. Sejak sekitar 7 tahun belakangan, wilayah Danau Sentani dan cagar alam Cyclop makin banyak ditinggali pemukim.

Para pendatang ini menempati wilayah hutan yang tak seharusnya tersentuh manusia. Mereka membuka lahan baru yang banyak diisi dengan perkebunan tradisional.

Banjir Bandang Jayapura

Sebelum banjir bandang terjadi 17 Maret pekan lalu, ada sekitar 600 kepala keluarga yang bermukim di sekitar Danau Sentani. Belum lagi, lebih dari 2000 warga yang tinggal di daerah yang kini terdampak parah.

“Terakhir banjir di Sentani 2007. Korbannya tidak sampai 10, mungkin ada 4 atau 5,” kata Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, kepada ABC.

“Ya memang skala banjir bandangnya yang meluas dan lebih besar,” imbuhnya.

Banjir bandang kali ini diikuti dengan kenaikan level permukaan air Danau Sentani setinggi 2 meter, sebut Mathius. Akibatnya semua rumah di sekitar danau terendam, dan hanya menyisakan bangunan gereja dan Gedung sekolah, yang memang terletak di dataran lebih tinggi.

Menurut Bupati, curah hujan yang tinggi turut menjadi faktor penyebab banjir. Meski demikian, Mathius tak menampik kerusakan lingkungan sebagai faktor yang sangat penting.

“Pertama curah hujan, kemudian lingkungan yang tidak terjaga baik. Karena kan kawasan Sentani ini berada di dalam cagar alam Gunung Cyclop, perambah hutan juga lumayan,” sebutnya.

“Ini kan kondisi di Papua, banyak masyarakat kami di beberapa kabupaten di pegunungan itu banyak warga masyarakatnya yang turun ke Jayapura.”

“Tetapi dari segi ekonomi, tidak bisa lah ada di kota dan untuk bertahan hidup mereka berkebun di daerah-daerah yang sebenarnya tidak boleh,” jelas Mathius.

Area bermukim yang makin melebar, hingga masuk wilayah hutan, itu juga bisa dilihat dari potret populasi di sana.

Evakuasi korban banjir bandang Jayapura oleh personil Polri dan Tim SAR

Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, ada peningkatan drastis dari jumlah penduduk di Kabupaten Jayapura.

“Susah kita deteksi juga karena migrasi datang pergi datang pergi dan tinggalnya juga dari satu keluarga berpindah ke keluarga lain. Jadi penduduk yang ada (sekarang) ini 252.000 sekian ya.”

“Kira-kira 10 tahun lalu masih 100 ribuan-lah, kenaikannya cukup besar. Bukan itu saja, ada migrasi dari luar Papua juga,” ungkap Mathius.

Dalam hitungan hari sejak banjir bandang terjadi, pemerintah setempat -mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi -langsung mewacanakan rencana relokasi

“Kita sudah sampaikan tidak ada cara, harus relokasi, harus dipindahkan dan kawasan cagar alam ini harus dibersihkan,” kata Bupati Jayapura.

Menanggapi rencana relokasi tersebut, Pace Charles -Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, mengatakan sebaiknya solusi mencegah terjadinya banjir tak hanya berhenti di relokasi.

“Yang paling penting, kalau kita berkaca dari rencana tata ruang wilayah tadi, adalah bagaimana komitmen Pemerintah, pertama dalam penertiban Kawasan (cagar alam) tersebut,” sebut Charles kepada ABC.