Australia Sebut Indonesia Gunakan Bom Fosfor di Nduga

6321
Korban luka bakar akibat operasi keamanan militer Indonesia di Nduga, Papua Desember 2015. [ISTIMEWA]

HarianPapua.com – Australia via salah satu media nasional, The Saturday Paper, mengklaim informasi yang mengatakan bahwa militer Indonesia menggunakan bom fosfor dalam mengejar para tersangka penembakan yang menewaskan 31 pekerja PT Istaka Karya di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua [ada pertengahan bulan Desember 2018 lalu.

Dalam berita The Saturday Paper berjudul Exclusive: Chemical weapons dropped on Papua yang terbit pada 22 Desember 2018, dilaporkan bukti militer Indonesia menggunakan bom fosfor tampak dari tubuh korban yang mengalami luka bakar di seluruh tubuhnya. Tujuh orang tewas dalam operasi itu. Ribuan orang melarikan diri ke kawasan puncak.

Bom fosfor yang meninggalkan luka bakar hingga mengenai tulang. Untuk menyelamatkan orang yang terkena bom itu adalah dengan menguburkan tubuhnya di dalam air.

Fosfor yang terserap di dalam tubuh akan merusak organ bagian dalam korban.

Sumber militer yang diwawancarai surat kabar itu membenarkan senjata yang dipertunjukkan lewat foto-foto korban adalah bom fosfor.

“Saya pernah melihatnya secara dekat dan personal dan ini senjata mengerikan,” ujar sumber militer itu.

Namun, menurut The Saturday Paper, satu pasukan Indonesia mengatakan mereka hanya menembakkan gas ke desa itu. “Ini ledakan, tapi dari sejenis gas.”

Foto-foto tentang 7 korban yang luka bakar itu diambil pada tanggal 4 dan 15 Desember 2018.

Tiga orang wrga desa di Mbua, Nduga tewas akibat serangan bom yang diduga fosfor itu, yakni Mianut Lokbere, Nison Tabuni, dan Mendus Tabuni. Empat korban tewas lainnya dari desa Yigili.

“Itu terjadi pada 15 Desember 2018 pukul 11.25 waktu setempat. Mereka tewas karena pengeboman oleh tentara Indo dari helikopter,” ujar seorang warga dari desa Mbua.

Kementerian Luar Negeri Australia dalam pernyataannya menjelaskan, pihaknya mengetahui tentang kekerasan yang terjadi di Papua.

“Pemerintah Australia mengetahui laporan lanjutan tentang kekerasan di Nduga, Papua termasuk laporan yang belum terverifikasi mengenai dugaan penggunaan proyektil fospor,” ujar jurubicara Kementerian Luar Negeri Australia.

“Pemerintah mengecam semua kekerasan di Papua, berdampak pada warga sipil dan aparatu. Kami akan melanjutkan pemantauan situasi, termasuk melalui misi diplomatik kami di Indonesia,” ujar pernyataan itu.

Operasi keamanan di Nduga dan sekitar pegunungan tengah Papua dipicu oleh peringatan pengibaran bendera Morning Star pada 1 Desember. Aparat keamanan Indonesia menangkap lebih dari 500 orang yang menghadiri pengibaran bendara Morning Star di Jyaapura dan beberapa kota lainnya di antaranya Surabaya, di mana mahasiswa Papua mengennelar aksi protes sebelum ditahan.

Di Nduga juga berlangsung pengibaran bendera Morning Star. Sejumlah pekerja untuk pembangunan jalan Trans Papua menyaksikan acara itu. Kemudian satu di antara mereka memfoto dan merekam acara pengibaran bendera.

Khawatir foto-foto itu akan digunakan untuk menangkap para penyelenggara pengibaran bendera, beberapa warga Papua merampas foto dan rekaman. Kemudian terjadi penembakan yang menewaskan 24 pekerja PT Istaka Karya.

Delapan pekerja lainnya melarikan diri ke rumah seorang politikus lokal. Keesokan harinya, 7 di antara mereka tewas dibunuh.

Aparat militer Indonesia kemudian melakukan pengejaran terhadap pelaku penembakan 31 pekerja di Nduga dengan melakukan serangan dari arah udara.

Diawali dari pengeboman dari pihak Indonesia. Karena jumlah militer yang minim di area itu, mereka lalu menggunakan serangan udara. Beberapa heli membawa bom. Bom berkekuatan besar bersama bom yang diduga bom fosfor kemudian dikerahkan menyerang desa-desa di Nduga.

Hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan resmi pemerintah Indonesia mengenai tudingan penggunaan bom fosfor oleh militer Indonesia itu.

Sumber: Tempo.co