Apa Makna 164 Tahun Injil di Tanah Papua?

190
Patung Yesus di Pulau Mansinam

HarianPapua.com – Tanggal 5 Februari selalu dikenang sebagai Hari Pekabaran Injil masuk ke Tanah Papua oleh semua umat Kristen di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Hari ini tepatnya 164 tahun silam, dua orang pembawa kabar (misionaris) yaitu Carl Williem Otto dan Jhon Gottlob Geissler atau menginjakan kaki di Tanah Papua dan mulai menyebarkan Injil.

Kini, Tanah Papua menjadi penuh dengan kedamaian setelah masuknya Injil yang membuka pintu hati semua umat Kristen di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Sayangnya, 164 tahun Injil masuk di Tanah Papua hanya membawa perubahan dari segi kerohanian saja. Sektor lainnya seperti perekonomian, pendidikan dan lain sebagainya, Papua dan Papua Barat masih sangat tertinggal jauh.

Hal ini belum ditambah dengan rakusnya para pejabat-pejabat koruptor yang asik mengisi perut mereka sendiri hingga kenyang namun melupakan tugas dan tanggung jawab sebagai wakil masyarakat.

Jangan terlalu jauh. Sebut saja peredaran minuman keras (miras) yang memiliki Perda Miras namun kenyataannya toko-toko minuman keras sangatlah marak di kedua provinsi ini.

Bahkan, penjualan minuman keras kerap dihubungkan sebagai senjata pemerintah daerah sebagai salah satu pendapatan daerah karena memiliki nilai pajak yang sangat besar.


Tugu peringatan masuknya Injil di Tanah Papua di Pulau Mansinam, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat

Untuk pembangunan sendiri, Papua dan Papua Barat baru terlihat taringnya dalam membangun ketika Joko Widodo menjabat sebagai orang nomor 1 di Indonesia.

Meskipun masih banyak kekurangan, Papua dan Papua Barat kini tersenyum lebih lebar akibat pembangunan infrastruktur yang dikerjakan untuk mengoptimalkan sektor ekonomi Orang Asli Papua (OAP) di Bumi Cenderawasih yang merupakan hasil karya Presiden Joko Widodo.

Sementara Papua dan Papua Barat tersenyum dengan pembangunan yang masih dikerjakan, aksi-aksi penembakan di kabupaten-kabupaten pegunungan Papua yang menewaskan begitu banyak manusia yang tidak bersalah kian menjadi penghambat.

Disinilah peran gereja diharapkan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat luas terlebih khusus kepada Orang Asli Papua tentang bagaimana terang Injil itu harus ditonjolkan.

Gereja pun dilarang untuk menjadi tunggangan politik segelintir manusia-manusia keji yang berusaha menjadi rakus dengan mengatasnamakan gereja sebagai jalan usahanya.

Di 164 tahun Pekabaran Injil masuk di Tanah Papua, besar harapan ada kemajuan yang signifikan dalam setiap sektor pembangunan di Tanah Papua. Mulai dari kerohanian yang nyata, pribadi yang unggul (tidak rakus dan koruptor), kemajuan sektor ekonomi, pendidikan yang menghasilkan manusia-manusia cerdas dan semua yang terbaik bagi negeri ini.