Penyanderaan Guru dan Tenaga Medis di Mapenduma Adalah Tindakan Terkutuk

486
Ilustrasi bendera bintang kejora

HarianPapua.com – Kabar penyanderaan belasan guru dan tenaga medis di Mapenduma, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua mendapatkan sorotan masyarakat terlebih khusus Kepala Suku Besar Nduga, Elipanus Wesareak yang mengutuk kejadian tersebut.

Sebelumnya, dikabarkan Polda Papua, telah terjadi pelarangan melakukan aktivitas oleh para guru dan tenaga medis yang masuk ke wilayah Mapenduma. Pelarangan itu dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang diduga dipimpin oleh Egianus Kogeya. Para guru dan tenaga medis disekap di Puskesmas Mapenduma sejak 3-17 Oktober. Bahkan, kabar yang disampaikan ada guru dan tenaga medis yang mendapatkan perlakuan asusila juga kekerasan.

Kepada awak media di Timika, Kabupaten Mimika, Papua, Rabu (24/10/2018), Elipanus bersama tokoh masyarakat Nduga dan tokoh agama dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menyampaikan keprihatinan jika hal yang dikabarkan itu benar-benar terjadi di Mapenduma. Pasalnya, tidak adanya jaringan komunikasi di wilayah itu sehingga membuat sejumlah pihak yang ingin mencari kebenaran akan peristiwa yang kini menjadi sorotan menjadi terkendala.

“Yang sebenarnya saya sudah dapat informasi, tapi mau di cek kebenaran, karena saya harus pastikan dulu kejadian ini benar atau tidak,” ujarnya.

“Siapapun dia, yang jelas kami mengutuk perbuatan yang seperti itu. Saya secara pribadi maupun mengatasnamakan suku saya, saya sangat kesal. Dan itu (bagi) saya, mau dibilang, mau diterima sebagai manusia juga tidak. Ini (perbuatan) kemanusiaan yang luar biasa, kok bisa dilakukan dengan hal yang seperti itu. Jadi pihak-pihak yang melakukan itu apakah manusia atau sejenis apa? Ini saya secara pribadi maupun mengatasnamakan suku saya, saya katakan saya menyesal dan saya kutuk,” ujarnya.

Sedikitnya 15 orang guru dan tenaga medis mendapatkan perlakukan tidak sedap dengan disekap dalam sebuah puskesmas di Mapenduma, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. Bahkan salah satu diantara para tawanan yang disekap tersebut diperkosa secara bergiliran oleh para penyandera yang diduga merupakan sindikat Kelompok Krimina Bersenjata (KKB) yang selama ini beroperasi di wilayah pegunungan Papua.