Demi Masa Depan Anak Cucu, Stop Miras dan Perang Suku

891
ilustrasi perang suku

HarianPapua.com – Perang antar suku yang kerap terjadi dan menelan korban jiwa mendapatkan perhatian serius dari berbagai elemen masyarakat yang menilai hal tersebut sangat merugikan dan terus mengeliminasi keberadaan orang asli Papua (OAP) di Bumi Cenderawasih.

Kalangan Gereja Kemah Injil Indonesia (Kingmi) di Tanah Papua Klasis Mimika menyoroti masih sering terjadinya konflik perang suku yang mengancam keberlangsungan dan masa depan anak-anak Papua.

Koordinator Sekolah Minggu Gereja Kingmi Klasis Mimika, Marike Pigai mengatakan, konflik perang suku yang terjadi di sejumlah daerah di Papua seperti di Kabupaten Nduga, Kwamki Lama dan Jayanti Mimika, Intan Jaya dan beberapa daerah lainnya juga merenggut korban jiwa di kalangan anak-anak.

“Konflik perang suku yang masih terjadi sampai saat ini di beberapa daerah di Papua sangat mengancam anak-anak Papua. Kami berharap semua pihak harus berupaya maksimal untuk menghentikan segala konflik di Papua demi masa depan anak-anak kita,” kata Marike dilansir Antara.

Selain konflik perang suku, Marike menyebut, ancaman terbesar bagi anak-anak Papua dewasa ini yaitu pengaruh konsumsi minuman keras beralkohol, mengisap lem aiko aibon, dan pergaulan hingga menjurus pada seks bebas, serta penggunaan obat-obatan terlarang.

Dalam rangka menghindarkan anak-anak Papua dari berbagai pengaruh negatif tersebut, pada Jumat (19/10), kalangan Gereja Kingmi se Papua menggelar acara peringatan Hari Anak Kingmi ke-3.

Di Timika, peringatan Hari Anak Kingmi dilakukan dengan menggelar longmarch dari Gereja Kingmi Jemaat Bahtera Kwamki Baru menuju Timika Indah yang diikuti seribuan anak dari sekitar 40 gereja jemaat.

Di Timika Indah, anak-anak Gereja Kingmi menerima sosialisasi dari Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Mimika serta Dinas Kesehatan Mimika dan dilanjutkan dengan ibadah pengucapan syukur.

Marike mengatakan kegiatan Hari Anak Kingmi dicetuskan oleh Ketua Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua Pendeta DR Beny Giyai menyikapi tingginya angka kekerasan termasuk pembunuhan terhadap anak-anak usia dini.

“Setiap tanggal 19 Oktober diperingati sebagai hari anak Kingmi di seluruh Tanah Papua di mana Gereja Kingmi berada. Kegiatan ini sekaligus untuk membangun pengharapan bahwa masa depan bangsa dan gereja ada di pundak generasi muda, sehingga mereka harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh baik dari keluarga, masyarakat maupun pemerintah,” tutur Marike yang merupakan staf pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mimika.

Ia juga berharap para orang tua benar-benar memperhatikan pendidikan anak-anak Papua.