Masyarakat Papua Harus Tingkatkan Konsumsi Pangan Lokal

1328
Papeda dan Kuah Kuning

HarianPapua.com – Memperingati Hari Pangan Sedunia tahun 2018, Gubernur Papua Lukas Enembe menghimbau kepada seluruh masyarakat di tanah Papua untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal seperti Sagu, Keladi dan juga Buah Merah untuk mengurangi ketergantungan pasokan bahan pangan dari luar Papua.

“Kami sarankan pangan lokal ini harus menjadi konsumsi utama masyarakat, institusi negara, dan lainnya,” katanya saat peringatan Hari Pangan Sedunia 2018 di Jayapura.

Lukas Enembe mengambil contoh yang diterapkan oleh Komando Daerah Militer (Kodam) Provinsi Papua yang menerapkan makan Papeda dua minggu sekali.

“Memang selama ini pangan lokal tersebut sudah dikonsumsi oleh masyarakat dan institusi pemerintah, namun ke depan harus terus ditingkatkan,” terang Lukas.

Sebelumnya, Badan Ketahanan Pangan dan Koordinasi Penyuluh Pemerintah Provinsi Papua mendorong usaha pengembangan pangan lokal di wilayah itu.
Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Koordinasi Penyuluh Pemprov Papua Roberth Eddy Purwoko mengatakan usaha pengembangan pangan lokal untuk menghentikan ketergantungan masyarakat terhadap pangan dari luar Bumi Cenderawasih.

Dia mengatakan tentang keharusan upaya-upaya pengembangan kearifan itu, karena pangan lokal juga mempunyai nilai gizi lebih.

“Dengan mengonsumsinya, sumber daya manusia Papua semakin sehat, kuat, aktif, dan produktif,” ujar dia.

Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Jayapura, Provinsi Papua, memperluas lahan hutan sagu di empat kampung di Distrik Muara Tami.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Jayapura Jean Hendrik Rollo di Jayapura, Selasa, mengemukakan perluasan hutan sagu dilakukan di Kampung Skouw Sae, Skouw Mabo, Skouw Yambe dan Kampung Moso.

“Tahun ini kita tambah 10 hektare lahan sagu, kurang lebih ada 1.100 pohon yang ditanam di lahan tersebut, atau 100 pohon lebih per hektare,” ujarnya, Selasa (16/10/2018

Ke depan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Jayapura akan menata hutan sagu diintegrasikan dengan usaha kolam ikan.

“Semisal jarak tanam 8 x 10 meter atau 10 x 20 meter kemudian ditengahnya itu kita integrasikan dengan membuat kolam ikan air tawar terutama ikan mujair dan lele. Ikan lokal itu sebenarnya mempunyai kandung gizi yang cukup,” ujarnya.

Dia menambahkan, dengan demikian jika masyarakat panen sagu maka bersamaan dengan panen ikan.