Prabowo Subianto Dinilai Melecahkan Bangsa dan Negara

461
Pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno (foto: Tribun)

HarianPapua.com – Mungkin pepatah “Senjata makan tuan” atau “Mulut mu Harimau mu” layak disematkan kepada Capres Prabowo Subianto yang dinilai bingung menentukan arah langkah kakinya untuk dapat memenangkan Pemilihan Umum Presiden 2019 mendatang.

Benar. banyak hal negatif yang disampaikan Prabowo Subianto tentang bangsa dan negara Indonesia yang bahkan kemudian menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

Capres Prabowo Subianto menyebut negara dikelola secara ugal-ugalan sehingga mimpi Indonesia berjaya luntur. Partai Hanura menilai banyak orang berpikir dua kali untuk memilih Prabowo pada pilpres.

“Kalau seorang capres saja sudah tidak bisa menghargai bangsa dan negaranya, apakah pantas dipilih oleh rakyat Indonesia? Pasti deh banyak yang mikir dua kali untuk memilih dia,” kata Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir kepada wartawan, Selasa (16/10/2018).

Inas menilai Prabowo sulit menerima perbedaan. Selain itu, dia menyebut Prabowo sedang kebingungan membuat program. Karena itu, Prabowo meniru slogan kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump lewat ‘Make Indonesia Great Again’.

“Apalagi dia sedang bingung membuat program yang akan ditawarkan kepada rakyat Indonesia, sehingga yang bisa dia lalukan hanya meniru Trump, yakni ‘Make America Great Again‘,” ujar Inas.

Dia pun mengaku heran terhadap slogan yang dilontarkan Prabowo itu. Menurut Inas, ucapan Prabowo melecehkan RI.

“Apakah Prabowo menganggap Indonesia tidak great/jaya? Kalau memang demikian, sama saja Prabowo melecehkan bangsa Indonesia, melecehkan pemerintah Indonesia, melecehkan juga militer Indonesia! Atau dengan kata lain bahwa Prabowo melecehkan bangsa dan negara Indonesia,” ucap anggota DPR itu.

Sebelumnya, Prabowo Subianto menjelaskan latar belakangnya soal pernyataan ‘Make Indonesia Great Again’. Menurut Prabowo, pernyataan itu salah satunya didasari oleh riuhnya Kabinet Kerja karena di dalamnya ada saling tuding.

“Empat tahun terakhir kita melihat bagaimana sebuah keputusan bisa dengan mudah direvisi atau dibatalkan tanpa memikirkan dampak hingga rakyat bawah. Hukum menjadi alat tawar-menawar politik tanpa pernah mempedulikan rasa keadilan. Dan kita terus menyaksikan bagaimana riuhnya Kabinet Kerja, akibat saling tuding antarkementerian dan lembaga negara. Perlahan-lahan mimpi mengembalikan kejayaan Indonesia luntur oleh cara ugal-ugalan dalam mengelola negara,” kata Prabowo.