OPINI: Kenapa Harus Alergi Dengan Tes Online ?

22925

HarianPapua.com – Hari ini perhatian saya cukup dialihkan dengan sebuah pesan singkat yang beredar di setiap grup whatsapp bahkan di sejumlah lini masa media sosial yang saya ikuti. Pesan ini berkaitan dengan mekanisme pelaksanaan penerimaan CPNS tahun ini khusus wilayah Papua.

Ada sebuah surat singkat yang belum dikonfirmasi kebenarannya, namun di dalam surat tersebut ada beberapa poin pernyataan yang intinya adalah pucuk pimpinan di Papua, Gubernur beserta para Bupati dan pemangku kepentingan lainnya, secara tegas menolak sistem tes online sebagai sarana mendapatkan CPNS tahun ini.

Memang, secara tertulis di surat tersebut tidak menjelaskan alasan penolakan tes online. Mereka hanya meminta tes dilakukan secara offline atau dengan kata lain kembali ke sistem manual menggunakan lembar jawaban.

Namun dengan adanya surat ini pikiran saya langsung tertuju ke sebuah isu hangat yang memang juga sudah beredar belakangan ini. Isu itu adalah jika tes
dilakukan secara online, peluang OAP untuk lolos cukup kecil. Benar ka tra eh?

Ah sungguh terlalu. Kalau memang tujuan surat pernyataan itu untuk mengakomodir isu bahwa tes online menyulitkan OAP bahkan menutup peluang OAP saya rasa itu sungguh berlebihan. Surat pernyataan seperti itu malah membuat kami anak-anak Papua semakin dipandang tidak kompeten oleh saudara-saudara kami yang bukan OAP.

Sepertinya kami kok tertinggal sekali ya dari sisi apa pun sehingga perlu perlakuan khusus terus oleh pemerintah pusat. Padahal menteri perempuan saja ada dari Papua. Bukti bahwa kita juga bisa bersaing dengan saudara-saudara dari daerah lain.

Okelah saya mengerti juga maksud dan tujuannya mungkin baik, agar anak-anak Papua tidak tersisih di negeri sendiri. Tapi bukan dengan cara menolak tes online. Karena di setiap daerah di Indonesia semua menggunakan mekanisme yang sama, tidak mungkin dong cuma kita di Papua yang beda sendiri.

Jika yang diminta adalah jumlah kuota yang diterima harus sekian persen OAP mungkin masih masuk akal. Karena yang saya dengar hal tersebut juga sudah sering dilakukan untuk proses masuk bagi calon mahasiswa baru di Universitas Cenderawasih. Ada kuota berapa persen untuk OAP dan sisanya untuk yang bukan OAP.

Selanjutnya dari sisi transparansi, menurut saya tes online sudah paling bagus karena lolos tidaknya seseorang dalam tes tersebut semua tergantung persiapan yang dilakukan.

Buang jauh-jauh pikiran bahwa tes online hanya menyulitkan OAP karena tidak ada kemudahan juga di tes offline kalau kita tidak mempersiapkan diri dengan baik. Lagi pula di dalam tes offline yang diperiksa bukan oleh komputer, tingkat kecurangan biasanya justru lebih besar. Syukur-syukur kalau ada yang mau bantu kamu. Kalau justru ada yang mau menyingkirkan kamu bagaimana ya kira-kira?

Kemudian jika alasan penolakan karena banyak OAP yang belum mahir menggunakan komputer, saya orang pertama yang akan bilang sudah banyak OAP yang mahir menggunakan komputer. Cek saja akun-akun sosial media yang dipakai OAP, itu bukti paling nyata bahwa sudah banyak yang mahir menggunakan komputer. Jika memang masih ada yang belum bisa komputer seperti saudara-saudara di pedalaman, itulah tugas utama pemerintah untuk mempersiapkan SDM yang bisa
bersaing.

Menolak sistem online itu seperti kita mendayung ke hulu sungai. Lelah sendiri jadinya karena arus sungai akan terus mengalir bahkan bisa bertambah deras seiring perkembangan jaman yang sudah serba digital.

Kita harus mengikuti arus, menyesuaikan diri dengan setiap perubahan yang terus terjadi. Jika tidak, kita hanya akan hidup dengan penuh alasan, pesimis dan tidak mau bersaing. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Begitu bunyi pesan dari seseorang bernama Ridwan Kamil yang kini menjadi salah satu Gubernur dengan visi misi program terbaik di Indonesia.

Saya rasa itu juga berlaku untuk kita semua. Sekali lagi, tidak ada kemudahan dalam tes offline jika kita juga tidak belajar, dan belum tentu kita gagal dalam tes online jika kita sudah mempersiapkan diri dengan baik. Salam sukses.

Artikel OPINI ini ditulis oleh Rikardo Kaway (26 September 2018)