Langit Papua Penuh Misteri, Ini Jawaban AirNav

1787
Bandara Oksibil

HarianPapua.com – Menjangkau wilayah-wilayah terluar, terdepan dan tertinggal (3T) merupakan salah satu fokus pemerintah saat ini.

Komitmen tersebut tercantum dalam Nawa Cita ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Pemerataan ekonomi hingga menyentuh batas wilayah Bumi Pertiwi ini terus dilakukan demi terwujudnya Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Namun, kondisi wilayah Indonesia yang terdiri dari 17.000 pulau menuntut akses transportasi yang efektif dan efisien. Pemerintah telah menjalankan program Tol Laut untuk menjamin distribusi barang dari wilayah Indonesia Barat ke Indonesia Timur terjaga, sehingga dapat menekan harga, terutama harga bahan pokok.

Meski demikian, Tol Laut yang didukung oleh transportasi laut dan darat tidak bisa menjangkau seluruh wilayah hingga ke pelosok, contohnya di Papua karena kondisi geografisnya yang berbukit.

Untuk itu, pemerintah juga menjalankan Tol Udara atau Jembatan Udara sebagai penyambung akses dari pelabuhan ke wilayah-wilayah pelosok, terutama di wilayah perbukitan.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah memerintahkan untuk meningkatkan fasilitas navigasi di Papua dan selanjutnya menyusun aturan khusus mengenai penerbangan di Papua yang medannya berbeda dibandingkan dengan daerah-daerah yang lain.

Ia memetakan dua hal yang harus ditingkatkan, yaitu alat navigasi dan kedisiplinan.

“Kita terlebih dahulu konsolidasi facts and findings (fakta dan temuan) apa, kemudian diidentifikasi dan ada dua hal yang harus dilakukan, pertama memperbaiki alat navigasi, kedua meningkatkan disiplin” katanya.

Budi juga memerintahkan Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Airnav Indonesia) untuk meningkatkan pelayanan dan infrastruktur secara menyeluruh guna keselamatan penerbangan di Papua.

Instruksi tersebut diwujudkan dalam peningkatan investasi baik modernisasi maupun pengadaan alat navigasi di Papua dari Rp138 miliar pada 2017 menjadi Rp156 miliar pada 2018.

Alat-alat tersebut, meliputi komunikasi (communication), navigasi (navigation), pengawasan (surveillance) dan otomatisasi (automation) atau disingkat CNS-A.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno mengatakan program modernisasi merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam membangun Papua dengan meningkatkan konektivitas 109 bandara di Bumi Cendrawasih itu.

“Dengan kondisi geografis Papua, transportasi udara merupakan moda krusial bagi masyarakat Papua. Sehingga program modernisasi layanan navigasi penerbangan ini kami luncurkan demi meningkatkan konektivitas udara pada 109 Bandara Papua,” katanya.

Ia berharap konektivitas udara di wilayah Papua meningkat sehingga turut menunjang pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua.