Manokwari, Kota Injil yang Berubah Menjadi Sarang Judi

64172
Pemandangan Kota Manokwari dari kejauhan (foto: HarianPapua.com)

HarianPapua.com – Siapa yang tidak mengenal Kabupaten Manokwari? Ibu kota Provinsi Papua Barat yang berdiri gagah dengan memiliki luas wilayah 1.556,94 km² dan berpenduduk kurang lebih 201.218 jiwa ini memang tersohor sebagai salah satu kota yang pertama kali mendapatkan sentuhan Injil Kebenaran Alkitab sebelum meluas hingga ke seluruh daratan Provinsi Papua dan Papua Barat.

Benar. Sejak injil pertama kali masuk ke tanah Papua (waktu itu belum ada Papua atau Papua Barat) lewat Pulau Mansinam, Manokwari menjadi pusat wisata Rohani bagi sejumlah umat Kristiani yang berada di Bumi Cenderawasih.

Tak sedikit pula wisatawan lokal, nasional dan bahkan mancanegara yang ingin berkunjung ke Pulau Mansinam di Kabupaten Manokwari tersebut untuk melihat dan merasakan pulau dimana kebenaran injil tentang Kasih Kristus itu mulai bersinar menerangi Papua.

Kenangan manis dari dua misionaris asal Jerman yaitu Carl Willem Ottow dan Johann Gottlob Geissler kini membawa perubahan yang begitu luar biasa tentang perjalanan iman umat kristiani di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Kota Injil itu Telah Berubah Menjadi Sarang Judi

Kini, Manokwari yang dulu bersinar sebagai Kota Injil itu telah berubah menjadi Kabupaten/Kota yang dikuasai oleh perjudian yang meluas hingga di pelosok-pelosok.

Mulai dari judi togel dan permainan judi dadu di Sanggeng, Reremi, Pasar Wosi bahkan hingga ke tempat-tempat terpencil lainnya ada saja perputaran judi yang terus menghancurkan citra Kabupaten/Kota Manokwari sebagai kota injil.

Bahkan di Sanggeng sendiri, lokasi perjudian sudah berdiri di samping dan di belakang rumah ibadah atau Gereja. Selain berjudi, masyarakat setempat juga ramai-ramai mengonsumsi minuman beralkohol di lokasi yang tak jauh dari tempat-tempat ibadah.

Sementara itu, aparat kepolisian sendiri terlihat seakan-akan lupa dengan identitas mereka sebagai kesatria pelindung rakyat. Terlihat disana dalam keramaian perjudian baik di siang atau malam hari terdapat anggota TNI dan juga POLRI yang turut bergabung berjudi dan mengonsumsi minuman beralkohol.

Informasi yang media ini dapatkan, ternyata bandar-bandar judi di Kabupaten/Kota Manokwari memberikan upah yang cukup besar bagi para petinggi-petinggi di kepolisian Polda Papua Barat untuk menjadi “anjing penjaga” sementara bisnis haram itu dijalankan.

Pantauan media HarianPapua.com, ternyata masyarakat asli Kabupaten/Kota Manokwari sudah mulai tergerus dan tinggal di pinggiran-pinggiran kota atau bahkan naik ke gunung-gunung setelah tanah ulayat mereka terjual habis.

Jadi, siapakah perusak citra Kabupaten/Kota Manokwari sebagai kota injil? Bandar Judi? Anjing Penjaga? Atau masyarakat “lain” yang datang hanya untuk merusak citra kota injil itu sendiri?

Hanya Tuhan yang tahu….