Tentang Sebutan “Pace Mace”, Pergeseran Makna, Dan Kebanggaan

412

HarianPapua.com – Bagi orang asli Papua istilah atau sebutan Pace Mace sudah sangat familiar dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kecuali saat menyebut nama, dua kata ini tidak asing di telinga kita karena hampir setiap hari digunakan sebagai panggilan untuk Pria dan Wanita Papua.

Meski terus digunakan dari waktu ke waktu, ternyata cukup sulit untuk menemukan data valid tentang dari mana asal muasal kata Pace dan Mace ini. Beberapa sumber yang ditemukan HarianPapua.com lewat pencarian singkat di internet, yang tentunya kebenarannya masih harus diuji lagi, menuliskan Pace Mace berasal dari bahasa Fak-fak yang berarti sebutan untuk Om dan Tante.

Sumber lainnya, masih di pencarian yang sama, justru memberi ruang lebih luas dengan menyebut panggilan Pace Mace dapat digunakan untuk memanggil orang yang lebih tua dari umur kita. Ini artinya dua kata tersebut tidak hanya terbatas di panggilan Om dan Tante.

So apapun itu, yang pasti masyarakat Papua mempercayai dua kata tersebut merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang yang tetap eksis untuk digunakan saat ini sebagai budaya asli Papua.

Jika merujuk kembali ke sumber di atas, tentunya kita tak perlu heran karena pada kenyataanya panggilan Pace dan Mace ini memang lebih banyak dipakai, diucapkan, dan ditujukan untuk mereka yang berusia lebih dari 20 tahun. Panggilan ini sama maknanya dengan panggilan Mas Mbak nya orang Jawa.

Bedanya Pace dan Mace masih bisa digunakan untuk memanggil orang Papua yang usianya lebih dari 40 tahun. Sementara di Jawa, Mas dan Mbak sudah tidak berlaku lagi ketika seseorang memasuki usia tersebut, kecuali yang memanggilnya adalah pasangan sendiri atau saudara kandung, boleh-boleh saja.

Penggeseran Makna dan Kebanggaan

Di Papua, tariklah 20 atau 30 tahun ke belakang, bahkan tidak semua orang asli Papua suka dipanggil Pace atau Mace. Alasan penolakan yaitu bagi yang usianya masih muda, panggilan tersebut seperti menganggap mereka jauh lebih tua.

Panggilan Pace dan Mace kala itu juga belum sepopuler sekarang yang penyebarannya sangat cepat menyesuaikan perkembangan teknologi informasi, sehingga dalam penggunaannya beberapa orang masih canggung, malu-malu dan tidak percaya diri.

Namun ibarat pepatah, Lain Batu, Lain Karang, Lain Dulu, Lain Sekarang, situasi kini telah berbeda. Sebutan Pace dan Mace yang dulunya hanya digunakan dan ditujukan untuk para orang tua kini telah bergeser makna. Anak-anak di usia 15-25 tahun pun oleh teman sebayanya telah menggunakan Pace dan Mace sebagai panggilan.

Panggilan ini bukan berarti menganggap temannya lebih tua, bukan juga untuk menyindir temannya lewat sebutan tersebut, tapi lebih kepada kenyamanan dan keakraban yang sudah mulai tumbuh dalam penggunaan dua kata itu.

Pace dan Mace juga kini sudah seperti identitas. Tidak hanya orang asli Papua, mereka yang juga berasal dari suku pendatang namun sudah tinggal lama di Papua selalu bangga dan senang ketika: Dipanggil dan memanggil dengan sebutan Pace dan Mace.

Bahkan ketika mereka telah pulang ke kampung halamannya masing-masing, atau sedang merantau, lalu bertemu dengan teman lamanya di Papua, entah temannya orang Papua atau bukan, mereka tak segan dan bangga untuk menyapanya dengan panggilan Pace atau Mace.