Melihat Kondisi Jumaidi, Bocah yang Lolos Dari Kecelakaan Maut di Oksibil

877
Jumaidi (12) korban selamat dalam kecelakan pesawat perintis milik maskapai Dimonim Air yang menabrak Gunung Menuk, Sabtu (11/8/2018) (Foto:Humas Polda Papua)

HarianPapua.com – Namanya Jumaidi dan baru berusia 12 tahun serta masih duduk di bangku pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua.

Jumaidi menjadi satu-satunya korban yang selamat dari kecelakaan maut pesawat perintis dengan nomor penerbangan PK-HVQ milik maskapai penerbangan Dimonim Air yang menabrak Gunung Menuk di Oksibil pada hari Sabtu (11/8/2018).

Berangkat dari Bandar Udara Tanah Merah di Kabupaten Boeven Digoel pukul 13.42 WIT, pesawat yang dipiloti Kapten Leslie Sevuve dan Co-Pilot Wayan Sugiarta tersebut hilang kontak beberapa saat sebelum mendarat di bandara Oksibil.

Hal ini terlihat dengan adanya kontak pertama yang terjadi antara pesawaat naas tersebut dengan Tower Oksibil pada pukul 14.11 WIT dan juga pada pukul 14.17 WIT dengan melaporkan posisi pesawat yang berada pada ketinggian 7.000. kaki.

Namun setelah kontak kedua, pesawaat naas tersebut kemudian hilang kontak dan ditemukan telah menabrak Gunung Menuk yang berada di Oksibil.

“Pesawat sempat berputar dua kali dan bandara Oksibil terlihat. Namun tiba-tiba kembali gelap dan pilot memerintahkan penumpang mengenakan sabuk pengaman sementara alarm di pesawat terus berbunyi” terang bocah 12 tahun tersebut.

Akibat jatuh dari ketinggian, Jumaidi mengalami patah di bagian lengan kanan, cidera di bagian kaki, giginya patah serta perutnya terasa sangat sakit.

Hingga berita ini diturunkan, kondisi Jumaidi saat ini sudah mulai berangsur pulih. Jumaidi mengalami operasi karena terdapat sobekan pada bagian limpa bocah tersebut. Operasi dilakukan untuk menghentikan serta membersihkan rembesan darah.

“Berhasil disedot atau dikeluarkan sekitar 400 cc” terang Kepala Rumah Sakit Bhayangkara, AKBP dr Heri.

Kisah Sedih Perjuangan Sang Ayah Menyelamatkan Jumaidi

Bocah 12 tahun bernama Jumaidi ternyata tidak melakukan perjalanan seorang diri bersama pesawat naas tersebut. Jumaidi berada bersama dengan ayahnya yang juga merupakan salah satu dari korban yang tewas akibat kecelakaan pesawat itu.

Ketika pesawat hampir menyentuh tanah dari ketinggian, ayah Jumaidi meminta dirinya untuk lompat dari pesawat sambil (ayahnya) membuka pintu pesawat.

Sang ayah berkata “saya saja yang mati” lalu mendorong Jumaidi keluar dari pesawat tersebut.

“Bapak sempat menarik saya saat terjatuh dan terguling-guling sehingga bapak yang terluka dan dia berusaha meraih dahan atau akar pohon” terang Jumaidi.

Setelah pesawat jatuh menyentuh tanah, Jumaidi yang berhasil didorong keluar oleh ayahnya tersebut dengan penuh kesakitan mencoba untuk berjalan meskipun tertatih untuk mencari air.

Jumaidi menemukan beberapa air mineral yang tersisa dan juga buah apel yang dibawanya dari Tanah Merah.

Ketika sedang memakan apel, Jumaidi melihat kaki daripada ayahnya tersebut. Jumaidi pun langsung mendekat dan melihat kondisi ayahnya yang sudah dalam keadaan terluka.

Ayahnya pun sempat memanggil “Acok?” (panggilan Jumaidi).

“Saat melihat bapak, saya langsung membuang apel yang sedang dimakan, namun setelah memanggil (Acok) tidak lagi terdengar suara bapak” katanya.

Jumaidi pun sadar dan tahu bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Pada saat yang sama, Jumaidi melihat ada dua orang korban lainnya yang masih hidup dan salah satunya dalam keadaan tertindas oleh kursi pesawat.

Kuat dugaan kedua penumpang tersebut meninggal dunia pada keesokan harinya, Minggu (12/8/2018) akibat pendarahan. Sementara itu, sang pilot menurut Jumaidi sudah berada di luar pesawat alam keadaan terdapat luka pada bagian wajah.